Minggu, 14 April 2013

KANDUNGAN GIZI PADA IKAN

Kandungan gizi yang terdapat pada ikan, antara lain:
A. Protein
  1. Kandungan protein ikan lebih tinggi dari protein serealia dikacang-kacangan, setara dengan daging, sedikit dibawah telur.
  2. Protein ikan sangat mudah dicerna, sehingga baik bagi balita yang system pencernaannya belum sesempuna orang dewasa.
  3. Protein ikan mengandung berbagai asam amino dalam bentuk yang mendekati asam amino didalam tubuh manusia. Komposisi asam amino protein ikan juga lebih lengkap dibanding bahan makanan lain, salah satunya taurin, sangat bermanfaat merangsang pertumbuhan sel otak balita.
B. Lemak
  1. Asam lemak ikan merupakan asam lemak essensial yang sifatnya tidak jenuh. Asam lemak tidak jenuh sangat bermanfaat untuk mempertahankan kesehatan tubuh dan menjaga kestabilan kadar kolesterol.
  2. Beberapa ikan yang berasal dari laut dalam seperti salmon, tuna, sarden dan makarel, mengandung asam lemak yang tergabung dalam kelompok asam lemak omega 3. Yang paling dominan dari kelompok ini adalah asam eikosapentaenoat (EPA) dan asam dokosaheksaenoat (DHA). Keduanya bermanfaat dalam menurunkan kolesterol dalam darah dan meningkatkan pertumbuhan sel-sel otak sikecil
C. Vitamin
  1. Vitamin A : banyak terdapat pada minyak hati ikan bermanfaat mencegah kebutaan pada anak.
  2. Vitamin D : selain  terdapat dalam daging ikan, juga pada telur serta minyak hati ikan. Vitamin ini penting bagi pertumbuhan dan kekuatan tulang.
  3. Viatamin B6 : membantu metabolisme asam amino dan lemak serta mencegah anemia dan kerusakan syaraf.
  4. Vitamin B 12 bermanfaat dalam pembentukan sel-sel darah merah, membantu metabolisme lemak, dan melindungi jantung juga kerusakan syaraf
D. Mineral
  1. Zat besi: jauh lebih mudah diserap tubuh ketimbang dari sumber lain seperti serealia atau kacang-kacangan. Zat besi membantu mencegah terjadinya anemia.
  2. Yodium: mencegah terjadinya penyakit  gondok serta hambatan pertumbuhan anak, bahkan juga kecerdasannya.
  3. Selenium: berperan membantu metabolisme tubuh dan sebagai antioksidan yang melindungi tubuh dari radikal bebas, antioksidan bisa mencegah terjadinya penyakit degeneratif seperti jantung koroner.
  4. Seng: membantu kerja enzim dan hormone.
  5. Fluor: menguatkan serta menyehatkan gigi skecil.
Kandungan gizi berbagai jenis ikan per 100 gr (diambil dari sumber daftar komposisi bahan pangan) diantaranya sebagai berikut:
a. Ikan Salmon
   • Kalori     : 116
   • Protein (gr)   : 19.9
   • Lemak (gr)     : 3.45
   • Kolesterol (mg): 52
   • Zat besi (mg)  : 0.77
b. Ikan Tengiri
   • Kalori         : 112
   • Protein (gr)   : 21.4
   • Lemak (gr)     : 2.3
   • Kolesterol (mg): 33
   • Zat besi (mg)  : 0.9
c. Ikan Tongkol
   • Kalori         : 111
   • Protein (gr)   : 24
   • Lemak (gr)     : 1
   • Kolesterol (mg): 46
   • Zat besi (mg)  : 0.7
d. Ikan Kakap
   • Kalori         : 111
   • Protein (gr)   : 24
   • Lemak (gr)     : 1
   • Kolesterol (mg): 46
   • Zat besi (mg)  : 0.7
e. Ikan Kembung
   • Kalori         : 112
   • Protein (gr)   : 21.4
   • Lemak (gr)     : 2.3
   • Kolesterol (mg): 33
   • Zat besi (mg)  : 0.9
f. Ikan Bawal
   • Kalori         : 84
   • Protein (gr)   : 18.2
   • Lemak (gr)     : 0.7
   • Kolesterol (mg): 44
   • Zat besi (mg)  : 0.4
g. Ikan Bandeng
   • Kalori         : 84
   • Protein (gr)   : 14.8
   • Lemak (gr)     : 2.3
   • Kolesterol (mg): 58
   • Zat besi (mg)  : 0.3
h. Ikan Cue
   • Kalori         : 74
   • Protein (gr)   : 13
   • Lemak (gr)     : 2
   • Kolesterol (mg): 50
   • Zat besi (mg)  : 0.3
i. Belut
   • Kalori         : 112
   • Protein (gr)   : 21.4
   • Lemak (gr)     : 2.3
   • Kolesterol (mg): 33
   • Zat besi (mg)  : 0.9
j. Ikan Mas
   • Kalori         : 130
   • Protein (gr)   : 18.3
   • Lemak (gr)     : 5.8
   • Kolesterol (mg): 67
   • Zat besi (mg)  : 1.3
k. Ikan Lele
   • Kalori         : 84
   • Protein (gr)   : 14.8
   • Lemak (gr)     : 2.3
   • Kolesterol (mg): 58
   • Zat besi (mg)  : 0.3
l. Ikan Wader
   • Kalori         : 84
   • Protein (gr)   : 14.8
   • Lemak (gr)     : 2.3
   • Kolesterol (mg): 58
   • Zat besi (mg)  : 0.3
m. Ikan Mujair
   • Kalori         : 84
   • Protein (gr)   : 18.2
   • Lemak (gr)     : 0.7
   • Kolesterol (mg): 44
   • Zat besi (mg)  : 0.4
 
sumber :  http://penyuluhankelautanperikanan.blogspot.com

Jumat, 12 April 2013

TEKNOLOGI BUDIDAYA IKAN AIR TAWAR (THE SERIES)


1.   Pembenihan Ikan Mas

1.1.  Persyaratan Lokasi

ü  - Dekat dengan sumber air dan bebas banjir terutama pada musim penghujan. Sumber air tersedia sepanjang tahun.
ü  - Elevasi (kemiringan) kolam 5 – 7 derajat kearah pengurasan/pembuangan air. Sehingga pengairan kolam dapat dilakukan dengan sistem aerasi (terjadi pertukaran air setiap saat).
üLahan subur dan perairannya bebas dari pencemaran .
ü  - Tekstur tanah tidak banyak mengandung pasir guna menghindari rembesan air kolam. Sebaiknya terdiri dari tanah lempung atau liat berpasir.
ü  - Dekat dengan rumah tinggal agar memudahkan pengontrolan.
ü  Transportasi lancar untuk memudahkan pengangkutan sarana produksi dan distribusi pemasaran benih. 

1.2.  Seleksi Induk Ikan Mas
Kualitas benih yang dihasilkan tergantung pada kualitas induk yang digunakan pada proses pemijahan. Kesiapan induk untuk memijah merupakan penentu utama keberhasilan proses pemijahan yang dilakukan. Adapun cirri umum induk yang siap memijah adalah :
-       Sehat dan tidak cacat,
-       Badan tebal dan punggung tinggi,
-       Pangkal ekor kuat dan normal,
-       Sisik mengkilat dan tersusun rapih, dan
-       Lubang anus agak ke belakang lebih mendekat ke pangkal ekor.
-       Umur induk jantan > 8 s/d 12 bulan dengan berat + 1 kg, dan umur induk betina > 1,5 tahun dengan berat tubuh + 2 kg.
-       Adapun tanda-tanda induk ikan yang siap memijah adalah sebagai berikut :
Ø  Jantan : Jika Perutnya diurut akan mengeluarkan cairan/sperma berwarna putih susu
Ø  Betina : Gerakan lamban, perut membesar dan terasa kenyal, lubang genitalnya memerah, malam hari sering loncat-loncat ke permukaan air/kolam.


1.3. Pemijahan Ikan Mas
Hal yang paling penting seblum dilakukan pemijahan adalah langkah pemberokan induk ikan. Pemberokan merupakan langkah pemisahan induk ikan pada kolam tersendiri. Pemberokan berfungsi untuk Memudahkan proses pemijahan dengan cara menghilangkan lemak-lemak/kotoran yang menutupi alat genital ikan; Mengurangi kandungan lemak yang terdapat pada gonad; dan Ikan lebih siap untuk dipijahkan
Sebelum dilakukan pemijahan ikan mas, terlebih dahulu diperhatikan  kesiapan kolam pemijahan agar proses pemijahan dapat berjalan dengan baik. Persiapan kolam pemijahan secara bertahap, dilakukan sebagai berikut :
·         Kolam pemijahan dikeringkan/dibersihkan. Kemudian isi air dengan ketinggian 0,75 m
·         Masukkan kakaban/ijuk yang diberi bambu
·         Pasang saringan dari kawat kasa pada pintu pemasukan dan pengeluaran.

Setelah kolam pemijahan sudah siap untuk digunakan maka langkah selanjutnya adalah melakukan pencampuran induk ikan jantan dan betina dengan ketentuan sebagai berikut :

·         Masukkan induk jantan dan betina dengan perbandingan 2 : 1 atau perbandingan berat 1 : 1
·         Ikan akan memijah pada malam hari menjelang pagi

Untuk mendukung proses pemijahan, sarana pemijahan dapat berupa kolam tanah, kolam beton, ataupun bak fiber. Namun pada umumnya proses pemijahan dilakukan pada kolam beton atau kolam tanah.
khusus kolam tanah, pada umumnya pembudidaya ikan mas menggunakan jarring/hapa sebagai wadah pembatas antara luas kolam secara keseluruhan dengan lokasi untuk pemijahan, dimana hal ini dilakukan agar proses pencampuran induk ikan akan lebih mudah. Berikut gambaran posisi Kakaban pada kolam pemijahan ikan mas di bawah ini.        
        
1.4.  Penetasan Telur
Kegiatan penetasan telur sangat menentukan berhasil tidaknya produksi benih. Pada tahap ini, diperlukan perhatian yang cukup besar karena menyangkut bagaimana penangana telur yang baik dan benar agar dihasilkan benih dengan jumlah yang cukup sesuai dengan harapan. Tahap penetasan telur ikan mas, dilakukan sebagai berikut :
·      Persiapan kolam dilakukan terlebih dahulu sebelum seleksi induk, yang meliputi pengeringan kolam, dan penumbuhan pakan alami.
·      Telur dipindahkan dari kolam pemijahan ke kolam penetasan, dengan cara dibersihkan perlahan-lahan. Sebaiknya dilakukan pada pagi hari, guna menghindari telur dari mangsaan induknya sendiri, 
·      Posisi memasang kakaban agar tenggelam + 5 cm (diberikan pemberat)
·      Aliran air jangan terlalu deras
·      Telur akan menetas dalam 2 – 3 hari tergantung suhu.

1.5.  Perawatan Larva

Perawatan Larva yang telah menetas, pada umumnya dilakukan pada kolam penetasan itu sendiri. Namun secara Intensif biasanya penetasan dilakukan pada bak fiber dan pemeliharaannya pun pada bak fiber. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam proses perawatan larva adalah sebagai berikut :
ü  Bila larva telah lepas dari kakaban, angkat kakaban lalu keringkan
ü  Siapkan makanan benih berupa suspensi kuning telur atau pakan tambahan berupa dedak halus
ü  Pemberian pakan dilakukan jika terlihat larva mulai mencari makanan
ü  Pemberian pakan dengan frkwensi 3 kali sehari
ü  Untuk penatasan dalam hapa dan  , larva telah dapat didederkan setalah 4-5 hari pemeliharaan.
ü  Untuk penetasan dalam fiber sebaiknya setelah ikan telah menjadi benih (+ 2 munggu) baru dilepaskan ke kolam pendederan.

PENERIMAAN SESEORANG TERHADAP MATERI PENYULUHAN YANG DISAMPAIKAN


Kamis, 31 Januari 2013

PERAN PENYULUH DALAM PENGEMBANGAN EKONOMI LOKAL




Kegiatan Perekonomian masyarakat di Sulawesi Selatan didominasi oleh kegiatan pada sektor Pertanian, Perikanan dan Kehutanan, dimana wilayah potensial tiga sektor tersebut menyebar hampir diseluruh Kabupaten/Kota. Data Tahun 2012 menyebutkan bahwa untuk Sektor Pertanian potensi lahan sawah yang dapat dikembangkan + 700.000 Ha,   sektor  Perikanan   yang mencapai + 318.000 Ha, sektor Kehutanan + 7,6 juta Ha. Potensi lahan yang sangat besar ini akan mampu memberikan peningkatan ekonomi masyarakat bila dapat dikembangkan potensinya dan terkelola dengan baik.


Sebagai perwujudan peningkatan ekonomi masyarakat, sangat dibutuhkan peran strategis berbagai pihak mulai dari pemerintah, swasta, dan semua stakeholder termasuk masyarakat pelaku ekonomi itu sendiri. Dalam hal ini, peran pemerintah sebagai pengambil kebijakan dapat berupa pembinaan teknologi anjuran, informasi usaha, motivasi, fasilitasi, serta kebijakan teknis dan finansial lainnya. Sedangkan peran swasta dapat berupa pengembangan kemitraan usaha dan kredit usaha. Terkait dengan peran pemerintah terhadap pengembangan ekonomi masyarakat, penulis membatasi pada peran penyuluh pertanian, perikanan dan kehutanan sebagai tenaga teknis lapangan yang seharusnya lebih memahami permasalahan dan keinginan masyarakat pelaku utama (petani, peternak, pekebun, pembudidaya dan pembenih ikan, dan masyarakat di dalam dan di sekitar kawasan hutan).
Sebelum penulis membahas peran penyuluh itu sendiri, Istilah pengembangan ekonomi lokal perlu dipahami lebih dulu. Beberapa sumber yang menjadi referensi penulis menyebutkan bahwa definisi istilah Pengembangan Ekonomi Lokal (PEL) adalah sebagai berikut:

Ø  PEL sebagai proses yang dilakukan secara bersama oleh Pemerintah, Usahawan, dan Organisasi non pemerintah untuk menciptakan kondisi yang lebih baik untuk pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja di tingkat lokal (World Bank).
Ø  PEL adalah proses dimana Pemerintah lokal dan Organisasi masyarakat terlibat untuk mendorong, merangsang, memelihara, aktivitas usaha untuk menciptakan lapangan pekerjaan (Blakely dan Bradshaw).
Ø  PEL adalah suatu proses dimana kemitraan yang mapan antara Pemerintah Daerah, kelompok berbasis masyarakat, dunia usaha mengelola sumberdaya yang ada untuk menciptakan lapangan pekerjaan dan merangsang (pertumbuhan) ekonomi pada suatu wilayah tertentu. Menekankan pada kontrol lokal, dan penggunaan potensi sumberdaya manusia, kelembagaan dan sumberdaya fisik (A.H.J. Helming).

Pengembangan Ekonomi Lokal (PEL) dalam implementasinya berfokus pada 1) peningkatan kandungan lokal yakni potensi lokal yang dimiliki suatu daerah untuk dikelola dengan baik melalui pemantapan kebijakan, pengembangan pola kemitraan dan partisipasi masyarakat, yang kesemuanya itu mengarah pada peningkatan kesejahteraan masyarakat;  2) Keterlibatan seluruh Stakeholder dimana pemerintah, pihak swasta dan masyarakat merupakan satu kesatuan yang utuh dalam bekerjasama mewujudkan kesejahteraan masyarakat; 3) Ketahanan pangan dan Kemandirian Lokal yang diarahkan pada pengelolaan potensi daerah yang bertujuan pada pencukupan kebutuhan pangan, menciptakan pasar, dan peningkatan nilai jual melalui difersifikasi pangan; 4) Pembangunan yang berkelanjutan yakni bagaimana pengelola potensi daerah secara bijak dengan memperhitungkan keseimbangan lingkungan dan kelestarian lingkungan untuk kehidupan di masa yang akan datang; 5) Pengembangan Usaha Kecil Menengah melalui pengembangan pola kemitraan yang lebih aktif menyesuaikan peningkatan usaha dengan kondisi pasar dan perkembangan teknologi; 6) Peningkatan Kapasitas dan Kualitas SDM mengarah pada peningkatan kompetensi SDM Pembina dan tenaga teknis, serta perubahan sikap, pengetahuan dan keterampilan pelaku utama; 7) Pengurangan Kesenjangan Usaha dengan memaksimalkan pemanfataan dan pengembangan usaha sesuai dengan karakteristik potensi daerah, sehingga mampu membuka peluang usaha, membuka lapangan kerja, yang pada akhirnya dapat merangsang kegiatan ekonomi ke arah peningkatan kesejahteraan.
PEL sebagai salah satu langkah terbaik dalam meningkatan taraf hidup masyarakat memiliki tujuan utama yakni : Terlaksananya upaya percepatan pengembangan ekonomi lokal melalui perlibatan Pemerintah, dunia usaha, masyarakat lokal dan organisasi masyarakat madani dalam suatu proses yang partisipatif, Terbangun dan berkembangnya kemitraan dan aliansi strategis dalam upaya percepatan pengembangan ekonomi lokal diantara stokeholder secara sinergis, Terbangunnya sarana dan prasarana ekonomi yang mendukung upaya percepatan pembangunan ekonomi lokal, Terwujudnya pengembangan dan pertumbuhan UKM secara ekonomis dan berkelanjutan, Terwujudnya peningkatan PAD dan PDRB, Terwujudnya peningkatan pendapatan masyarakat, berkurangnya pengangguran, menurunnya tingkat kemiskinan, Terwujudnya peningkatan pemerataan antar kelompok masyarakat, antar sektor dan antar wilayah, Terciptanya ketahanan dan kemandirian ekonomi masyarakat.
 Dalam Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2006 tentang Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (SP3K), telah diamanatkan bahwa penyelenggaraan penyuluhan menjadi wewenang dan tanggung jawab Pemerintah dan Pemerintah Daerah.  Wewenang dan tanggung jawab tersebut diwujudkan antara lain dengan menyelenggarakan Revitalisasi Penyuluhan dengan diselenggarakannya Program Pemantapan Sistem Penyuluhan yang meliputi aspek-aspek penataan dan penguatan kelembagaan, ketenagaan, penyelenggaraan, sarana dan prasarana serta pembiayaan penyuluhan. Dalam hal ini, penyuluhan sebagai langkah untuk menggerakkan kegiatan ekonomi di tingkat pelaku utama perlu untuk lebih digiatkan dengan mengoptimalkan peran para penyuluh lapangan sebagai tenaga pembina, pendamping, motivator, mitra kerja, teknikal, dalam memfasilitasi kepentingan pelaku utama. Peran penyuluh tersebut terkait pada kebutuhan informasi teknologi, informasi pasar, informasi sarana prasarana, informasi permodalan usaha, sampai kepada pengembangan sistem kemitraan pelaku utama dengan pelaku usaha.
Pemerintah Sulawesi Selatan dalam hal ini Sekretariat Badan Koordinasi Penyuluhan Provinsi Sulawesi Selatan, dalam penyelenggaraan penyuluhan sektor Pertanian, Perikanan dan Kehutanan, juga mengamanatkan kepada seluruh penyuluh agar mampu menjadi jembatan penghubung antara pemerintah dan pihak swasta dengan Pelaku utama dalam upaya peningkatan kesejahteraan pelaku utama. Bahkan 1 orang penyuluh diajak untuk berkomitmen agar mau dan berusaha untuk mengangkat 6 (enam) Kepala Keluarga dari kemiskinan setiap tahunnya. Bayangkan jika hal itu terbukti, dari ­+ 4.600 penyuluh (PNS, Kontrak, dan Swadaya) yang tersebar di Sulawesi Selatan akan mampu mengangkat + 27 ribu KK yang jika diperkirakan 1 KK terdiri dari 4 orang, maka sekitar + 100 ribu orang diangkat dari belenggu kemiskinan setiap tahunnya.
Dalam penulisan ini, penulis menawarkan sebuah konsep penyuluhan yang disebut Gerakan Optimalisasi Penyuluhan Partisipatif (GEMA HATI). Makna “GEMA adalah Pantulan Suara yang secara lahiriah dapat bermakna Kebijakan Penyuluhan dilaksanakan secara terpadu, seragam, selaras, sehingga kebijakan penyuluhan dapat diimplementasikan hingga ke tingkat lapangan. Artinya bahwa GEMA (GErakan optiMAlisasi) adalah upaya mengoptimalkan Program/ kegiatan dengan dukungan berbagai pihak baik pemerintah, swasta, masyarakat. Sedangkan makna “HATI” diibaratkan dengan Ketulusan dan Kesucian yang secara lahiriah digambarkan bahwa arah Kebijakan penyelenggaraan Penyuluhan berorientasi pada kebaikan yakni kesejahteraan masyarakat. Artinya bahwa  HATI (penyuluHAn PartisipaTIf) adalah mengembangkan kreatifitas penyuluhan sesuai dengan potensi daerah, sebagai fasilitator, menerima kritik dan saran, dan orientasi pada pembangunan.
GEMA HATI   menggambarkan optimalisasi peran penyuluh dengan tujuan utama kegiatan adalah memotivasi kegiatan penyuluh untuk senantiasa berfikir kreatif, toleransi terhadap kritik dan saran, mengembangkan sikap berfikir Positif, merancang Program/Kegiatan pembinaan dan pendampingan secara optimal, menciptakan sistem monitoring dan evaluasi kegiatan pengembangan, serta menciptakan kerjasama yang erat dengan berbagai pihak. Dalam upaya pengembangan penyuluhan secara partisipatif tersebut, dilaksanakan melalui pengembangan Sumberdaya manusia (SDM) Penyuluh, mengembangkan atau memberdayakan lembaga penyuluhan di tingkat lapangan yakni Balai Penyuluhan tingkat Kecamatan dan Pos Penyuluhan di tingkat Desa/Kelurahan serta mengembangkan koordinasi secara efektif terkait penyelenggaraan penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan secara keseluruhan mulai dari pemerintah Pusat hingga pada tingkat Desa/kelurahan.
Penulis mengharapkan bahwa peran penyuluh pertanian, penyuluh perikanan, dan penyuluh kehutanan untuk dapat lebih optimal dengan dukungan/fasilitasi kebijakan penyuluhan, disamping pengembangan diri yang senantiasa harus dilakukan oleh penyuluh itu sendiri. Semoga apa yang menjadi tugas pokok penyuluh sebagai satu kewajiban dalam mengimplementasikannya, menjadi salah satu kegiatan yang bernilai Ibadah disisi Allah SWT. Tetaplah bersinar wahai penyuluh, yakinlah bahwa sinarmu itu akan membawamu ke puncak kejayaan seperti yang kamu harapkan. Tapi ingat, ketika kejayaan itu telah dicapai sadarilah bahwa arti sesungguhnya sinarmu itu adalah menyinari kegelapan. Selamat bekerja, berikan yang terbaik dari yang kita miliki untuk kesejahteraan pelaku utama.(Rachmady Azis)

Pengembangan 4 Komoditi Perikanan Di Sulsel


Provinsi Sulawesi Selatan ditetapkan sebagai daerah pusat pengembangan perikanan, khususnya pada 4 jenis komoditi perikanan, seperti, udang, ikan cakalang, bandeng dan rumput laut. Daerah Sulawesi Selatan merupakan salah satu provinsi yang memiliki potensi perikanan yang cukup besar, hanya saja hingga kini pengembangannya belum dilakukan secara maksimal. Hal ini dikatakan oleh Kepala Bidang Perikanan Budidaya, Dinas Kelautan dan Perikanan Sulsel, Sulkaf Latif, Senin, 18 Juni 2012 di Makassar.

Utamanya pada sektor hulunya atau pengolahannya, selama ini sejumlah komoditi masih dipasarkan dalam bentuk bahan baku, baik udang, rumput laut, cakalang maupun bandeng. Penetapan Sulsel sebagai pusat pengembangan 4 komoditi perikanan mulai berjalan tahun 2012 ini. Untuk tahap awal, industri pengolahan rumput laut akan dibangun di Kabupaten Takalar dan Jeneponto. Tahun 2013 mendatang industri yang akan dibangun adalah pengolahan udang, bandeng, dan cakalang. Untuk pengembangan 4 komoditi perikanan tersebut dibutuhkan anggaran sekitar Rp400 miliar.
Selain pembangunan industri pengolahan, pengembangan 4 komoditi perikanan tersebut juga dilakukan di sektor hilirnya atau pada budidaya. Tahun depan Kementerian Kelautan dan Perikanan berjanji akan mengalokasikan anggaran hingga Rp34 miliar. Sebanyak Rp20 miliar diantaranya untuk perbaikan saluran irigasi tambak, sisanya merupakan bantuan langsung kepada masyarakat melalui program Pengembangan Usaha Mina Pedesaan.
Pasar komoditi perikanan Sulsel sudah cukup besar, khususnya di negara-negara Asia dan Uni Eropa. Namun, belum didukung perbaikan sistem budidaya lantaran keterbatasan anggaran. Misalnya, pengembangan udang di 19 kabupaten/kota kurang maksimal disebabkan saluran irigasi banyak yang rusak.

Senin, 22 Oktober 2012

MEMBANGUN KARAKTER PENYULUH (PERTANIAN, PERIKANAN, DAN KEHUTANAN)


    Dalam pelaksanaan penyuluhan, beberapa factor yang mempengaruhi optimalnya proses penyuluhan, salah satunya adalah karakter tenaga penyuluh yang terlibat langsung pada pembinaan di tingkat lapangan. Seorang penyuluh dengan memiliki karakter tertentu yang dapat diterima oleh pelaku utama akan membantu proses pembinaan. Beberapa karakter penyuluh yang dapat dibangun sebagai berikut :
              1. Keinginan untuk berkembang
     Seorang penyuluh yang senantiasa ingin mengembangkan kompetensinya adalah penyuluh yang memiliki kapasitas sebagai penyuluh yang berdedikasi tinggi terhadap peran dan fungsinya sebagai pembimbing dan pendamping pelaku utama. Seiring dengan semakin berkembangnya teknologi, seorang penyuluh pun untuk lebih meningkatkan kemampuan teknisnya agar mampu eksis memberikan penyuluhan dengan teknologi terbarukan, dengan catatan bahwa perapan teknologi yang diberikan ke pelaku utama merupakan teknologi yang sesuai dengan kemampuan menerima teknologi dari pelaku utama atau dengan kata lain teknologi spesifik lokal.

              2. Kemampuan Pendekatan emosional
Dalam melaksanakan pembinaan, seorang penyuluh harus memiliki kemampuan untuk mengenal karakter, kemampuan, keterampilan dan sikap dari pelaku utama, baik yang besifat personal maupun bersifat satu kesatuan kelompok pelaku utama. Pendekatan emosional dimaksud hanya dapat dilakukan ketika seorang penyuluh tidak berperilaku sebagai guru, pengajar atau semacamnya, melainkan pendekatan yang dilakukan penyuluh adalah berbaur sebagai mitra pelaku utama sehingga ada indikasi dalam pikiran pelaku utama bahwa penyuluh adalah bagian dari pengembangan usahanya. Peran penyuluh sebagai motivasi dan fasilitator adalah mutlak dimiliki sebagai kompetensi penyuluh.


3. Semangat pantang menyerah
Pelaksanaan penyuluhan memang tidak semudah yang dibayangkan, berbagai permasalahan yang cukup pelik akan terjadi dalam proses penyuluhan tersebut. Perbedaan karakter pelaku utama, permasalahan teknis dan non teknis di tingkat lapangan, permasalahan lingkungan baik sosial, ekonomi, budaya, menjadi satu diantara seribu tantangan penyuluh dalam pelaksanaan tugasnya. Seorang penyuluh harus tetap mengedepankan tujuan dan niat yang baik dengan didasari semangat pantang menyerah dan senantiasa berimprovisasi dalam pelaksanaan tugasnya.

4.    Berani, jujur, terbuka, dan kreatif
Penyuluh sebagai tenaga teknis yang terlibat langsung dengan pelaku utama, harus memiliki karakter berani untuk kepentingan pelaku utama, jujur dalam pelaksanaan tugas, terbuka untuk senantiasa memberikan informasi terkait kebutuhan pelaku utama, dan kreatif dalam melayani, membimbing, dan mendampingi pelaku utama.