Rabu, 06 Mei 2015

MONOGRAFI PROVINSI SULAWESI SELATAN


oleh : Rachmady Azis

1.    Letak Geografis dan Batas Administratif Wilayah
Letak Wilayah Provinsi Sulawesi Selatan antara 0012’~80 Lintang Selatan dan 1160 48’~122’ 36’ Bujur Timur, dengan ibukota Makassar. Wilayah ini berbatasan dengan Provinsi Sulawesi Barat di sebelah utara yaitu Kabupaten Toraja Utara, dan Teluk Bone serta Provinsi Sulawesi Tenggara di sebelah timur yaitu Kabupaten Luwu Timur, kemudian berbatasan dengan Selat Makassar di sebelah barat dan Laut Flores di sebelah timur. Luas wilayah khususnya wilayah daratan kurang lebih 45.764,53 km2 atau , dimana sebagian besar wilayah daratnya berada pada jazirah barat daya Pulau Sulawesi serta sebagian lainnya berada pada jazirah tenggara Pulau Sulawesi.
Luas wilayah daratan Sulawesi Selatan 45.764,53 Km2 atau 45.764.530 Ha, dan wilayah laut 998.370 km2.

2.    Topografi, Iklim dan Tanah
Berdasarkan klasifikasi tipe iklim menurut oldeman, Provinsi Sulawesi Selatan memiliki 5 jenis iklim, yaitu Tipe iklim A termasuk kategori iklim sangat basah dimana curah hujan rata-rata 3500-4000 mm/Tahun. Wilayah yang termasuk ke dalam tipe ini adalah Kabupaten Enrekang, Luwu, Luwu Utara dan Luwu Timur.Tipe Iklim B, termasuk iklim basah dengan curah hujan rata-rata 3000 – 3500mm/Tahun. Wilayah tipe ini terbagi 2 tipe yaitu (B1) meliputi Kabupaten Tana Toraja, Luwu Utara, Luwu Timur, Tipe B2 meliputi Gowa, Bulukumba, dan Bantaeng. Tipe iklim C termasuk iklim agak basah dengan Curah hujan rata-rata 2500 – 3000 mm/Tahun.Tipe iklim C terbagi 3 yaitu Iklim tipe C1 meliputi Kabupaten Wajo, Luwu, dan Tana Toraja. Iklim C2 meliputi Kabupaten Bulukumba, Bantaeng, Barru, Pangkep, Enrekang, Maros dan Jeneponto. Sedangkan tipe iklim C3 terdiri dari akassar, Bulukumba, Jeneponto, Pangkep, Barru, Maros, Sinjai, Gowa, Enrekang, Tana Toraja, Parepare, Selayar. Tipe iklim D dengan Curah hujan rata-rata 2000 – 2500 mm/Tahun. Tipe iklim ini terbagi 3 yaitu Wilayah yang masuk ke dalam iklim D1 meliputi Kabupaten Wajo, Bone, Soppeng, Luwu, Tana Toraja, dan Enrekang. Wilayah yang termasuk ke dalam iklim D2 terdiri dari Kabupaten Wajo, Bone, Soppeng, Sinjai, Luwu, Enrekang, dan Maros. Wilayah yang termasuk iklim D3 meliputi Kabupaten Bulukumba, Gowa, Pangkep, Jeneponto, Takalar, Sinjai dan Kota Makassar. Tipe iklim E dengan curah hujan rata-rata antara 1500 – 2000 mm/Tahun dimana tipe iklim ini disebut sebagai tipe iklim kering. Tipe iklim E1 terdapat di Kabupaten Maros, Bone dan Enrekang. Tipe iklim E2 terdapat di Kabupaten Maros, Bantaeng, dan Selayar
Berdasarkan jenis tanah di Sulawesi Selatan ada 12 jenis tanah yang sudah dikenal yaitu : alluvial, latosol, regosol, rensina, grumusol, andosol, brown, forest soil, mediteran, lateristik, podsolik merah kuning dan podsolik coklat kelabu.
Sedangkan sifat-sifat kimia tanah secara umum yang diperkirakan potensi kesuburan tanah di Sulawesi Selatan terbagi menjadi 11 daerah :

1.
Daerah Kaya N
:
Pegunungan  gamping  di Bone,  Bulukumba dan Selayar
2.
Daerah rendah N
:
Pegunungan Barat dan Timur dataran Maros,Soppeng dan sepanjang Sugai Walanae.
3.
Daerah Sangat Masam 
:
Dataran rawa di Luwu Barat
4.
Daerah rendah/sangat
rendah dengan N & K
:
Sebagian besar daerah banjir Danau Tempe dan Grumosol di Bone Utara
5.
Daerah rendah/sangat
rendah dengan NP & K
:
Dataran Sidrap Barat, dataran sekitar Ujung Lamuru dan Bone
6.
Daerah masam/agak
masam dengan N rendah/sangat rendah
:
Sebagian dari dataran Pinrang, Walanae Selatan, Ujung Lamuru, dataran Karama
7.
Daerah masam/agak
masam dengan K
rendah/sangat
:
Daerah Andosol di Lompobattang Timur
8.
Daerah masam/agak
masam dengan N & P
 rendah/sangat rendah
:
Sebagian dataran Pinrang,  jalur Barat pegunungan Barat, dataran bukit Sengkang
bagian Barat dan Tenggara gunung  Lompobattang, dataran Masamba dan daerah pegunungan atas Polmas, Tana Toraja Barat dan Luwu Utara
9.
Daerah masam/agak
masam dengan N & K
:
Dataran Jeneberang (Gowa), dataran Bajo Padangsappa  (Luwu),  daerah   bukit  di Bantaeng, Kajang, (Bulukumba) dan Bontoribu (Bone Selatan)
10.
Daerah masam/agak
masam dengan P & K
rendah/sangat rendah
:
Dataran Tappareng (Bone) dan Wajo
11.
Daerah masam/agak
masam dengan NPK rendah/sangat rendah
:
Dataran Wajo utara, dataran Mare (Bone) & dataran Luwu pada umumnya daerah landai di Bekeru (Sinjai) dan Tanete (Bulukumba) semua daerah bukit dan gunung di Sidrap Utara, Enrekang, Tana Toraja dan Luwu
      
3.    Pemanfataan Lahan
Dari luas wilayah daratan yang digunakan untuk pengembangan sector pertanian seluas 4.566.820 Ha. Dari jumlah lahan sawah seluas 600.393 Ha. tersebut diatas, baru terdapat 369.850 Ha lahan yang sudah beririgasi, sehingga masih terdapat 228.404 Ha belum beririgasi. Selain peningkatan produktifitas, produksi pada dapat juga ditingkatkan melalui pembangunan/ rehabilitasi jaringan irigasi. Untuk mendukung program pemerintah peningkatan luas tanam nasional 1,5 juta Ha, maka di Sulawesi Selatan terdapat potensi peningkatan luas melalui perbaikan dan pembangunan jaringan irigasi mulai primer sampai dengan tersier. Perbaikan irigasi pada prioritas I dapat meningkatkan luas tanam 24.000 ha di kabupaten Pangkep, Pinrang, dan Sidrap. Pebaikan irigasi pada tahap selanjutnya di 23 Kab/Kota dapat meningkatkan luas tanam hingga 318.000 Ha.
Kawasan hutan terdapat di Kabupaten Kepulauan Selayar yang merupakan taman nasional laut/kawasan hutan perairan mencapai 450.836,23 Ha atau 17,56 % dari total luas hutan negara yang terdapat di Provinsi Sulawesi Selatan  seluas 2.566.657,77  Ha. Kabupaten lain yang memiliki hutan negara yang relatif luas adalah Kabupaten Luwu Timur 734.755,48 Ha atau 17,75% dan Kabupaten Luwu Utara seluas 530.001,46 Ha. Luwu seluas 275.437,81 Ha, dan Kabupaten Bone seluas 124.325,44 Ha, serta Kabupaten Pangkep seluas 106.169,18 Ha. Kabupaten lainnya berada dibawah seratus ribu hektar. Areal Kehutanan bertambah sebesar 715.355 Ha (21%) menjadi 3.428.167,34,Ha. tetapi hutan lindung berkurang 12.002 Ha menjadi 1.221.558 Ha, hutan produksi terbatas berkurang sebanyak 250.697 Ha (51%) menjadi 237.854 Ha, hutan produksi biasa turun 19.000 Ha menjadi 112.641 Ha, Hutan suaka alam/wisata naik menjadi 1.026.793 Ha., sedangkan hutan produksi konversi hanya pada Kab. Luwu Utara dan Timur naik 100 % menjadi 248.552 Ha, kawasan perairan hanya di Selayar yaitu 580.765 Ha. Kawasan hutan terluas di Kabupaten Luwu Timur naik menjadi 734.755,48 Ha, Luwu Utara menjadi 530.001 Ha, dan Kabupaten Luwu 275.437,81 Ha. Selebihnya dibawah 100 Ha. Tiga daerah kawasan hutan terendah Kota Pare-pare 2.312,6 Ha, Kab. Bantaeng 5.792 Ha, Takalar7.536 Ha, serta Jeneponto 9.599 Ha, dan Palopo 9.321 Ha.Areal Perkebunan sebesar 671.923 Ha meliputi:
Areal perkebunan rakyat 669.438 Ha dan yang terluas merupakan areal tanam Coklat sebesar 275.723 Ha dengan produksi mencapai 196.695 Ton, Kelapa dalam areal tanam seluas 111.048 Ha dengan produksi mencapai 82.045 Ton, Jambu mete 63.818 Ha, denga produksi 19.733 Ton, kemudian Kopi Arabika 43.960 Ha, dengan produksi 21.798 Ton, Kopi robusta 26.440 Ha, dengan produksi sebesar 10.343 Ton, kemudian cengkeh 44.524 Ha dengan produksi mencapai 16.385 Ton. Areal perkebunan besar 15.079,51 Ha. Kondisi ini menunjukkan produktifitas lahan belum maksimal untuk mendukung pencapaian target dalam RPJMD.
Dari luas kawasan hutan Sulawesi Selatan terdapat hutan lindung seluas 1.221.558,96 Ha, dimana yang terluas adalah Kabupaten Luwu Utara 362.214 Ha, dan Luwu Timur 240.775 Ha. Hutan produksi terbatas yang terluas adalah Kabupaten Bone 80.478,30 Ha. Hutan produksi biasa terbesar di Kabupaten Gowa dengan luas 26.932,84 Ha. Kawasan perairan terbesar adalah Kabupaten Kepulauan Selayar seluas 530.765 Ha, dan Kabupaten Pangkep seluas 50.000 Ha. Luasan kawasan hutan umumnya memperlihatkan penurunan luasan setiap Tahun, hal ini perlu menjadi perhatian minimal dapat mepertahankan untuk kelestarian SDA dan LH.di masa datang.
Penggunaan lahan sebagai sawah terbesar terdapat di Kabupaten Bone dan Kabupaten Wajo. Dimana sebahagian besar berupa sawah tadah hujan yang luasnya mencapai 641,95 km2 di Kabupaten Bone dan 657,80 km2 di Kabupaten Wajo. Penggunaan lahan sebagai sawah yang menggunakan irigasi teknis terbesar terdapat di Kabupaten Pinrang dan Kabupaten Sidenreng Rappang. Penggunaan lahan sawah irigasi mencapai 375,75 km2 di Kabupaten Pinrang dan 298,90 km2 di Kabupaten Sidenreng Rappang, Sementara di Kabupaten Bone dan Wajo penggunaan sumber dari irigasi tehnis masih rendah atau perlu mendapat perhatian.
Selain itu, untuk usaha di sektor perikanan, potensi lahan yang dimiliki adalah seluas 172.681 Ha dengan rincian untuk usaha budidaya ikan di tambak 107.556,5 Ha, budidaya ikan di kolam 10.519,8 Ha, budidaya ikan di areal persawahan 13.071,4 Ha, dan budidaya ikan di laut seluas 41.533,4 Ha. Dengan dukungan potensi tersebut, tahun 2013, produksi perikanan secara keseluruhan sebesar 2,884.006,7 ton dengan nilai produksi mencapai Rp. 11.810.655.835.000. disamping itu, dari usaha penangkapan juga didukung dengan jumlah armada sebanyak 39.632 buah dengan alat tangkap sebanyak 50.817 unit.

4.    Penduduk dan Angkatan Kerja
Perkembangan penduduk Sulawesi Selatan hingga Tahun 2013 memperlihatkan peningkatan dengan tingkat pertumbuhan penduduk dari Tahun 2010 hinggaTahun 2013 sebesar 1,2 persen. Jumlah penduduk Provinsi Sulawesi Selatan pada. Tahun 2012 adalah sebesar 8.190.222 jiwa, kemudian pada Tahun 2013 mencapai 8.324.265 jiwa dengan pertumbuhan 1,1 persen. Jumlah penduduk terbesarTahun 2012 di Kota Makassar yang merupakan pusat kegiatan perekonomian dan ibukota Provinsi Sulawesi Selatan dengan jumlah penduduk sebesar 1.368.473 jiwa. Terendah adalah Kab. Selayar 124.319 jiwa dan Pare-pare yaitu 131.970 jiwa. Kepadatan penduduk di Provinsi Sulawesi Selatan pada Tahun 2011 adalah 177 jiwa/km2. Kepadatan penduduk tertinggi Makassar 7.786 jiwa/km2 kemudian Kotapare-pare 1.329, Palopo 615, Takalar 484, Bantaeng 453 jiwa/km2. Kepadatan terendah Kab. Luwu utara 36 jiwa dan Luwu timur 36 jiwa/km-2.

Jumlah penduduk di Sulawesi Selatan pada Tahun 2013 diproyeksikan mencapai sebesar 8.342.000 jiwa dengan pertumbuhan penduduk 1,13 persen (data resmi 2013 dari BPS). Penduduk usia produktif adalah penduduk yang masih memiliki kemampuan untuk melakukan pekerjaannya dan tidak bergantung kepada orang lain. Kelompok usia produktif sebesar 4.370.922 Jiwa ( 53 persen) meliputi usia 15-50 Tahun. Penduduk jenis kelamin wanita terbesar di Kabupaten Bone sebesar 379.853 dengan sex ratio 90,84 dan terkecil dikota Makassar. Dan yang terkecil jumlah penduduk perempuan di Kabupaten Luwu Timur dengan jumlah sebanyak 119.103 dengan Sex Ratio 106,14 persen. Penduduk laki-laki terbesar di Kota Makassar dan yang terkecil di Kota Pare-Pare.

5.    Kondisi Sosial dan Ekonomi
Pembangunan  Sumber Daya Manusia (SDM) suatu daerah akan menentukan karakter dari pembangunan ekonomi dan sosial karena manusia adalah pelaku aktif dari seluruh kegiatan pembangunan.  Pembangunan sumberdaya manusia di bidang pertanian, perikanan dan kehutanan sangat dipengaruhi oleh keadaan sosial dan ekonomi terutama bagi pelaku usaha dan pelaku utama yang dimulai dari tingkat pedesaan. Berikut ini gambaran keadaan sosial dan ekonomi pedesaan dalam pembangunan pertanian, perikanan dan kehutanan di Sulawesi Selatan.

a)    Keadaan Sosial
        Keadaan sosial masyarakat di pedesaan tidak terlepas dari adat istiadat, budaya dan norma-norma yang berlaku di masyarakat Sulawesi Selatan. Dalam berusahatani terutama Padi Sawah telah membudaya dilakukan musyawarah yang di kenal dengan istilah “ Tudang Sipulung”.  Istilah Tudang Sipulung ini di beberapa wilayah di Sulawesi Selatan dikenal dengan nama yakni Appalili di Kabupaten Gowa dan Takalar, Empo Sipatangareng di Kabupaten Jeneponto, Mesa Kada di Kabupaten Tana Toraja, Abbulosibatang di Kota Makassar, Manre Sipulung di Kabupaten Wajo, Mattudang-Tudangeng di Kabupaten Soppeng.  Istilah tersebut merupakan suatu forum konsultasi antara masyarakat Petani-Nelayan dengan Pemerintah yang dilaksanakan secara rutin mulai dari tingkat desa, kecamatan, kabupaten/kota dan tingkat provinsi yang menghasilkan kesepakatan-kesepakatan yang mengikat, yang dilaksanakan sebelum turun sawah / musim tanam melakukan pertemuan untuk membahas masalah cuaca, pola tanam, jadwal hambur benih/tanam dan persoalan-persoalan yang dihadapi petani/nelayan dalam melaksanakan usahataninya mulai dai persiapan turun sawah sampai dengan kegiatan pasca panen.
        Selanjutnya ditinjau dari peranan tenaga kerja  wanita atau istri petani dan pemuda tani masih kurang berperan dalam teknis kegiatan bertani, dalam hal ini bahwa peranan wanita tani dan pemuda tani masih menonjol dan terbatas pada kegiatan panen dan pasca panen.

b)   Keadaan Ekonomi
Daerah Sulawesi Selatan menyandang predikat sebagai lumbung pangan nasional khususnya padi, jagung, umbi-umbian dan kacang-kacangan. Produksi padi sawah Tahun 2013 mencapai 5.035.831 juta ton yang dipanen dari luas areal 983.107 Ha. atau rata-rata 5,12 ton per hektar. Data ini mengalami kenaikan sebesar 0,03 ton per Ha. Areal panen padi sawah 983.107 ha. Produksi padi terbesar di Sulawesi Selatan berturut-turut adalah Kabupaten Wajo mengalami penurunan menjadi 653.077 ton, Kabupaten Bone turun menjadi 643.568 ton, Kabupaten Pinrang turun menjadi 526.910 ton, sedang Kabupaten Sidrap naik menjadi 461.617 ton. Untuk produksi jagung Tahun 2013 mencapai 1.250.204  ton dimana mengalami penurunan 17 % dibanding tahun 2012 yang disebabkan oleh kondisi iklim yang kurang mendukung, dan meningkatnya luas tanam kedelei yang sebagian mengambil lahan jagung. Meskipun demikian tahun 2015 diharapkan meningkat hingga 1,6 juta ton.  Untuk meningkatkan kualitas dan nilai tambah keempat daerah ini perlu penerapan tehnologi pengolahan. Produksi tanaman perkebunan Tahun 2014, khususnya Kakao sebesar 176.587 Ton terbesar Luwu Utara sebanyak 34.199 ton dan Luwu sebanyak 33.979 ton, Kelapa 80.795 terbesar di selayar 24.180 ton dan 33.498 ton untuk kopi 33.498 Ton meliputi Kopi robusta sebesar 12.235 ton terbesar di Sinjai dan Kopi Arabika sebesar 21.263 Ton terbesar di Enrekang. Komoditi ini sebahagian besar dihasilkan dari perkebunan rakyat sementara peran perkebunan besar (swasta) relatif sangat kecil.

6.    Komoditi Kelautan dan Perikanan
Dalam mewujudkan sasaran program pembangunan di sektor kelautan dan perikanan, dukungan potensi lahan usaha perikanan di kabupaten kota sangat besar yakni 120.738 Ha untuk kegiatan budidaya tambak, 193.700 Ha budidaya laut, 100.803 budidaya air tawar, dan 200.800 Ha peraiaran umum. Untuk potensi perikanan tangkap sebesar 929.720 ton/tahun. Potensi komoditi unggulan perikanan di Sulawesi Selatan dapat dilihat pada table berikut ini.

Tabel Produksi Perikanan tahun 2013

No.
Komoditi
Usaha Perikanan
Produksi (ton)
1.
Udang
budidaya


Udang Windu
budidaya
15.319,10

Udang Vanamae
budidaya
8.542,20

Udang Lainnya
budidaya
10.559,40
2.
Rumput Laut



Eucheuma Cottonii
budidaya
1.661.334,5

Gracillaria
budidaya
760.819,7
3.
Ikan



Ikan Bandeng
budidaya
119.887,10

Ikan Mas
budidaya
7.294,20

Ikan Nila
budidaya
3.320,10

Ikan Lele
budidaya
1.558,60

Ikan Gurame
budidaya
16,00

Ikan Kakap
budidaya
1,60

Ikan Kerapu
budidaya
8,90

Ikan Patin
budidaya
30,90

Ikan Lainnya
budidaya
3.046,80
4.
Perikanan Laut
Penangkapan
277.894,00
5.
Perairan Umum
Penangkapan
14.343,60
Sumber : Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulawesi Selatan


Jumat, 20 Maret 2015

MANFAAT MENGKONSUMSI IKAN

Ikan merupakan salah satu bahan konsumsi hewani yang banyak memberikan manfaat bagi kesehatan tubuh kita. Berikut beberapa zat penting yang terkandung dalam tubuh ikan segar, yakni :

  1. Asam Lemak Omega-3 : Zat ini bermanfaat dalam menjaga arteri dari penyumbatan dan menurunkan tekanan darah, serta mengurangi resiko serangan jantung dan stroke. Omega-3 juga dapat membantu mengurangi peradangan dalam tubuh. Dengan mengonsumsi omega-3 secara rutin juga mengurangi resiko arthritis, diabetes, dan kanker. Beberapa ahli juga meyakini bahwa omega-3 sebenarnya bisa membantu perkembangan otak. Banyak jenis ikan yang kaya omega-3 diantaranya adalah lemuru, tuna, sardin, kembung, salmon, dan trout.
  2. Kandungan Lemak Jenuh Rendah : Berbeda dengan daging ayam, kambing, sapi yang mengandung lemah jenuh tinggi, daging ikan justru menghasilkan lemak tak jenuh ganda. Lemak jenuh tinggi, bila terlalu banyak dikonsumsi dapat menyebabkan masalah bagi kesehatan, yakni penyumbatan arteri. Sebab tubuh hanya membutuhkan lemak jenuh maksimum 10% dari asupan kalori.
  3. Vitamin : Ikan tertentu mengandung sejumlah vitamin. Seperti ikan salmon memberikan 100% vitamin D yang dibutuhkan dan 50% vitamin B12. Ikan kaleng seperti sarden yang telah lunak, tulangnya mudah dicerna dan menyediakan kalsium yang dibutuhkan tubuh. Ikan lainnya seperti halibut menyediakan seperempat dari kebutuhan magnesium harian yang dapat memberikan ketenangan dan membuat Anda teratur.
  4. Paket Protein : Ikan segar mengandung protein yang lengkap dengan semua asam amino yang dibutuhkan oleh tubuh untuk mempertahankan metabolisme tubuh yang sehat. Melalui metabolism yang baik, tubuh Anda akan menggunakan protein sebagai bahan bakar untuk menurunkan berat badan. Menurut para ahli, terdapat 18 gram protein untuk setiap 100 gram ikan segar. Sedangkan ikan yang telah dikeringkan dapat mencapai kadar protein 40 gram dalam 100 gram ikan kering.
  5. Mengurangi Resiko Alzheimer : Kebiasaan makan ikan ternyata juga berdampak positif pada otak. Orang yang terbiasa makan ikan bakar setidaknya sekali dalam seminggu akan mengalami peningkatan kesehatan otak serta pengurangan risiko terkena Alzheimer. Studi ini dilakukan oleh University of Pittsburgh Medical Centre and School of Medicine.
  6. Mineral : Ikan mengandung banyak mineral, diantaranya magnesium, phospor, yodium, fluor, zat besi, copper, zinc, dan selenium. Mineral yang terkandung dalam ikan kurang lebih sama banyaknya dengan mineral yang ada dalam susu, seperti kalsium, phosphor dan lainnya.


Ikan segar sangat baik untuk dikonsumsi oleh ibu hamil. Mengonsumsi ikan segar juga sangat baik untuk meningkatkan kecerdasan Anak. Apabila mengonsumsi ikan ini sudah menjadi budaya masyarakat, maka diharapkan bangsa ini menjadi bangsa yang cerdas.

sumber referensi : http://www.bibitikan.net/menggali-potensi-budidaya-ikan-air-tawar-di-indonesia/

Kamis, 15 Januari 2015

PRINSIP-PRINSIP PENYULUHAN


oleh : Rachmady Azis


Mathews dalam Aan (2014) menyatakan bahwa : prinsip adalah suatu pernyataan tentang kebijakan yang dijadikan pedoman dalam pengambilan keputusan dan melaksanakan kegiatan secara konsisten. Prinsip akan berlaku umum, dapat diterima secara umum, telah diyakini kebenarannya dari berbagai pengamatan dalam kondisi yang beragam. “Prinsip” dapat dijadikan landasan pokok yang benar, bagi pelaksanaan kegiatan.  Meskipun “prinsip” biasanya diterapkan dalam dunia akademis, Leagans dalam Aan (2014) menilai bahwa setiap penyuluh dalam melaksanakan kegiatannya harus berpegang teguh pada prinsip-prinsip penyuluhan. Tanpa berpegang pada prinsip-prinsip yang sudah disepakati, seorang penyuluh (apalagi administrator penyuluhan) tidak mungkin dapat melaksanakan pekerjaannya dengan baik.
Aan (2014) menyebukan bahwa Bertolak dari pemahaman penyuluhan sebagai salah satu sistem pendidikan, maka penyuluhan memiliki prinsip-prinsip:
a)    Mengerjakan, artinya, kegiatan penyuluhan harus sebanyak mungkin melibatkan masyarakat untuk mengerjakan/ menerapkan sesuatu. Karena melalui “mengerjakan” mereka akan mengalami proses belajar (baik dengan menggunakan pikiran, perasaan, dan ketram-pilannya) yang akan terus diingat untuk jangka waktu yang lebih lama.
b)   Akibat, artinya, kegiatan penyuluhan harus memberikan akibat atau pengaruh yang baik atau bermanfaat. Sebab, perasaan senang/puas atau tidak-senang/kecewa akan mempengaruhi semangatnya untuk mengikuti kegiatan belajar/ penyuluhan dimasa-masa mendatang.
c)    Asosiasi, artinya, setiap kegiatan penyuluhan harus dikaitkan dengan kegiatan lainnya. Sebab, setiap orang cenderung untuk mengaitkan/ menghubungkan kegiatannya dengan kegiatan/peris-tiwa yang lainnya. Misalnya, dengan melihat cangkul orang diingatkan kepada penyuluhan tentang persiapan lahan yang baik; melihat tanaman yang kerdil/subur, akan mengingatkannya kepada usahaa-usaha pemupukan, dll.
Lebih lanjut, Dahama dan Bhatnagar dalam Aan (2014) mengungkapkan prinsip-prinsip penyuluhan yang lain yang mencakup:
1)   Minat dan Kebutuhan, artinya, penyuluhan akan efektif jika selalu mengacu kepada minat dan kebutuhan masyarakat. Mengenai hal ini, harus dikaji secara mendalam: apa yang benar-benar menjadi minat dan kebutuhan yang dapat menyenangkan setiap individu maupun segenap warga masyarakatnya, kebutuhan apa saja yang dapat dipenyui sesuai dengan terse-dianya sumberdaya, serta minat dan kebutuhan mana yang perlu mendapat prioritas untuk dipenuhi terlebih dahulu.
2)   Organisasi masyarakat bawah, artinya penyuluhan akan efektif jika mampu melibatkan/menyentuk organisasi masyarakat bawah, sejak dari setiap keluarga/kekerabatan.
3)   Keragaman budaya, artinya, penyuluhan harus memperha-tikan adanya keragaman budaya. Perencanaan penyuluhan harus selalu disesuaikan dengan budaya lokal yang beragam. Di lain pihak, perencanaan penyuluhan yang seragam untuk setiap wilayah seringkali akan menemui hambatan yang bersumber pada keragaman budayanya.
4)   Perubahan budaya, artinya setiap kegiatan penyuluhan akan mengakibatkan perubahan budaya. Kegiatan penyuluhan harus dilaksanakan dengan bijak dan hati-hati agar perubahan yang terjadi tidak menimbulkan kejutan-kejutan budaya. Karena itu, setiap penyuluh perlu untuk terlebih dahulu memperhatikan nilai-nilai budaya lokal seperti tabu, kebiasaan-kebiasaan, dll.
5)   Kerjasama dan partisipasi, artinya penyuluhan hanya akan efektif jika mampu menggerakkan partisipasi masyarakat untuk selalu bekerjasama dalam melaksanakan program-program penyuluhan yang telah dirancang.
6)   Demokrasi dalam penerapan ilmu, artinya dalam penyuluhan harus selalu memberikan kesempatan kepada masyarakatnya untuk menawar setiap ilmu alternatif yang ingin diterapkan. Yang dimaksud demokrasi di sini, bukan terbatas pada tawar-menawar tentang ilmu alternatif saja, tetapi juga dalam penggunaan metoda penyuluhan, serta proses pengambilan keputusan yang akan dilakukan oleh masyarakat sasarannya.
7)   Belajar sambil bekerja, artinya dalam kegiatan penyuluhan harus diupayakan agar masyarakat dapat “belajar sambil bekerja” atau belajar dari pengalaman tentang segala sesuatu yang ia kerjakan. Dengan kata lain, penyuluhan tidak hanya sekadar menyampaikan informasi atau konsep-konsep teoritis, tetapi harus memberikan kesempatan kepada masyarakat sasaran untuk mencoba atau memperoleh pangalaman melalui pelaksanaan kegiatan secara nyata.
8)   Penggunaan metoda yang sesuai, artinya penyuluhan harus dilakukan dengan penerapan metoda yang selalu disesuaikan dengan kondisi (lingkungan fisik, kemampuan ekonomi, dan nilai sosialbudaya) sasarannya. Dengan kata lain, tidak satupun metoda yang dapat diterapkan di semua kondisi sasaran dengan efektif dan efisien.
9)   Kepemimpinan, artinya, penyuluh tidak melakukan kegiatan-kegiatan yang hanya bertujuan untuk kepentingan/kepuasannya sendiri, dan harus mampu mengembangkan kepemimpinan. Dalam hubungan ini, penyuluh sebaiknya mampu menumbuhkan pemimpin-pemimpin lokal atau memanfaatkan pemimpin lokal yang telah ada untuk membantu kegiatan penyuluhannya.
10)Spesialis yang terlatih, artinya, penyuluh harus benar-benar pribadi yang telah memperoleh latihan khusus tentang segala sesuatu yang sesuai dengan fungsinya sebagai penyuluh. Penyuluh-penyuluh yang disiapkan untuk menangani kegiatan-kegiatan khusus akan lebih efektif dibanding yang disiapkan untuk melakukan beragam kegiatan (meskipun masih berkaitan dengan kegiatan pertanian).
11)Segenap keluarga, artinya, penyuluh harus memperhatikan keluarga sebagai satu kesatuan dari unit sosial. Dalam hal ini, terkandung pengertian-pengertian:
§  Penyuluhan harus dapat mempengaruhi segenap anggota keluarga,
§  Setiap anggota keluarga memiliki peran/pengaruh dalam setiap pengambilan keputusan,
§  Penyuluhan harus mampu mengembangkan pemahaman bersama
§  Penyuluhan mengajarkan pengelolaan keuangan keluarga.
§  Penyuluhan mendorong keseimbangan antara kebutuhan keluarga dan kebutuhan usahatani.
§  Penyuluhan harus mampu mendidik anggota keluarga yang masih muda,
§  Penyuluhan harus mengembangkan kegiatan-kegiatan keluar-ga, memperkokoh kesatuan keluarga, baik yang menyangkut masalah sosial, ekonomi, maupun budaya
§  Mengembangkan pelayanan keluarga terhadap masyarakat-nya.

12)Kepuasan, artinya, penyuluhan harus mampu mewujudkan tercapainya kepuasan. Adanya kepuasan, akan sangat menentukan keikutsertaan sasaran pada program-program penyuluhan selanjutnya.

sumber referensi : http://lalaukan.blogspot.com/2014/01/falsafah-prinsip-dan-etika-penyuluhan.html